Test Ride Singkat: Triumph Street Triple 675

Beberapa waktu yang lalu saya dapat kesempatan mencoba moge Triumph 675. Moge asal Inggris. So, without further ado, here’s my short review.

Looks
Motor dengan chassis tralis ini sekilas terlihat tidak banyak berbeda dengan motor pabrikan Jepang. Mungkin hanya lampu depannya yang model-nya agak nyeleneh. Dua lampu depannya yang terpisah, terlihat berbeda. dimana lampu depan berbentuk kotak, trapesium dan meruncing. Sebuah trademark tersendiri.

Dari Belakang.

Lampu Kotak.
Lampu Kotak.

Motor 3 silinder ini sudah agak berisik walau masih menggunakan knalpot standard. Which is a good thing. Sejati-nya, motor sport harus agak berisik. Agar orang-orang lebih aware di jalan. Suara backfire dari knalpot underbelly-nya enak bener buat didengar.

Underbelly
Underbelly

Link HP di sini

Sedang dimensi motor ini hanya sedikit lebih besar dari CBR250R. Motor ini sejati-nya friendly untuk dipakai nyelap-nyelip.

triumph_675_cbr_compare_02

triumph_675_cbr_compare_01

triumph_675_cbr_compare_04

Nggak Beda Jauh Ukurannya.
Nggak Beda Jauh Ukurannya.

Cockpit
Dashboard (alias kokpit) termasuk lengkap. fuel gauge, average fuel consumption, engine temperature, clock, ABS indicator, shift light… I think almost everything is there. Display dengan backlight kuning gading-nya mudah dibaca. Terlihat disana Motor ini redline-nya di 14000rpm.

triumph_675_dashboard_02

triumph_675_dashboard_01

Comfort
Nyaman. Seriously. Busa jok motor ini tebal. Lebih tebal dari CBR250R. Posisi ridingnya agak-agak mirip ER6. Tapi posisi stang (menurut feeling saya) lebih kebawah. Dan badan agak sedikit lebih condong ke depan. Dengan tinggi badan 182cm, tentu saja saya nggak perlu jinjit. Overall, tinggi jok termasuk bersahabat untuk orang asia.

triumph_675_side_right_01
Kegedean Badan

Handling and Ride Impression
Karena posisi ridingnya yang lebih nyaman dari ER6, In My Humble Opinion, motor ini lebih nurut buat ditekuk. Nggak perlu lama untuk mengenal karakter handling-nya. Akselerasi tidak perlu diragukan. 1/4 putaran gas sudah cukup melesatkan badan saya yang lumayan berat ini (sekitar 98kg). Torsi-nya uuueedddaaaann masbro !!! Hal satu ini yang memberi kesan tersendiri bagi saya. Sayangnya karena jalanan yang kurang memadai, saya tidak bisa bereksplorasi lebih dengan throttle-nya. Senada dengan sisi pengereman. Saya tidak bisa mencoba seberapa pakem rem radial-nya di kecepetan tinggi. Baru 60-70kmph kudu bejek rem. Dan dengan mudah motor ini melambat. Maklum, saya agak agresif ketika mencoba motor ini. 😀

triumph_675_cockpit

Handling-nya lincah. Melihat ada jalan yang kosong ? Cukup banting stang, buka gas, dan dalam sekejap anda sudah menyusul di depan. Plain and simple. No drama. Hampir tidak terasa lag. Bila dibandingkan dengan Z800, motor ini torsi-nya terasa lebih cepat “masuk”. Hal ini karena rasio torque-to-weight yang lebih baik.

Berat isi (wet weight) motor ini sekitar 183kg. Beda 22kg dengan CBR250r (161kg), tapi torsi Triumph 675 3 kali lipat lebih besar (68Nm vs 22Nm). Jauh terasa perbedaan-nya. Knalpot underbelly-nya membantu dalam hal kestabilan.

Panas mesin termasuk bersahabat untuk moge kelas middleweight. Nggak panas-panas amat. Perbandingannya, agak sedikit lebih panas dengan CBR250R ketika dipakai macet-macetan parah di daerah Jatinegara siang-siang bolong. So the heat should be manageable.

What’s Less
Ada beberapa kekurangan yang saya jumpai. Seperti spion yang kurang tinggi dan tidak bisa disesuaikan di ujungnya. Hal ini membuat saya kesulitan melihat kendaraan-kendaraan di samping belakang. Kopling-nya cukup berat. IMHO, lebih berat dari Z800 yang saya coba setelahnya. Posisi riding yang agak tidak umum, perlu sedikit pembiasaan. But, it doesn’t take long to adapt. Dan terakhir, dengan banderol 375jt, rasa-nya motor ini sulit bersaing dengan GSR 750 atau MT-09.

Spion sudah pakem
Spion sudah pakem

Final words
It’s a fun bike. Ini moge yang enak apabila diperuntukan untuk harian. Not so big, good handling, awesome torque. Hanya sayang barrier dari sisi harga bisa membuat orang berpikir 2 kali. Barrier lainnya, brand awareness orang kita yang terlalu Japan-minded (dan Ducati minded :D). Moge ini termasuk cocok apabila ingin dipakai harian. You tend to ride aggresively because of that damn awesome torque and easy handling. Hanya saja, kopling-nya termasuk berat. Penggunaan kopling hidrolik mungkin bisa dijadikan alternatif.

So, bila ingin sesuatu yang berbeda give this bike a try. Perhaps you’ll love it. Just give it a try.

Thanks untuk mang kobay (kobayogas.com) dan Triumph Indonesia atas unit test-nya. 🙂

Share This
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Artikel-Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *