Review: Oli Repsol Moto Sport 10w40

Nanggung. Begitulah. Ini oli terpendek yang pernah saya coba. Nggak sampai 1000 kilometer sudah saya ganti. Berikut review saya soal oli ini masbro.

Cuma sampai 924 km. Saya drain oli ini. Di km segini, oli ini sudah berasa agak-agak nggak enak. Tebakan saya, oli ini masih bisa dipakai sampai 1200 km-an. Cuma karena saya sudah “dimanjakan” dengan oli-oli macam Amsoil dan Liquimoly, saya pengen ganti aja. Different rider, different standard.

Btw, harga oli ini sekitar 50-ribu-an seliter.

Impresi
Pengalaman gonta-ganti oli, biasa-nya performa oli kelihatan banget di 500 sampai 1000 km pertama. Setelah itu, komposisi kimia oli mulai rusak. Viskositas turun, aditif mulai rusak, dan oli mulai asam. Terlihat dari warna oli yang hitam ketika dikeluarkan.

Anyway, saya copy-paste aja dari artikel sebelum-nya, 500 Kilo Pertama Bersama Repsol Moto Sport. Secara seperti itulah pengalaman yang saya sarankan.

300 Kilo Pertama
Hal pertama yang saya notice dari oli ini, dia memiliki rasa membran tipis macam Liquimoly. Tapi rasa-nya tidak semencolok Liquimoly. Bisa jadi ini sisa-sisa dari Liquimoly. Vibrasi terasa teredam. Getaran mesin pas nyentuh rpm 8000 cukup teredam. Walau redaman tidak sebaik oli-oli dengan banderol 100 ribu macam Amsoil, Liquimoly, atau Advance Ultra. But it’s acceptable.

500 Kilo Pertama
Setelah odometer penggunaan menyentuh hampir 600 kilo, rasa-rasa yang saya utarakan di atas praktis berkurang. Bisa jadi bekas-bekas Liquimoly sudah habis. Tinggal Repsol saja. Nevertheless, terasa perbedaan-nya.

Seperti layaknya oli, Repsol Motor Sport bekerja optimal pas suhu mesin sudah stabil. Setelah oli udah menjalar kemana-mana. Stabilitas seperti-nya bukan point kuat oli ini. Panas bukan teman terbaik-nya. Saya pernah riding dalam kota sekitar 20-30 kilo-an panas-panas bolong jam 2-an. Jalan lancar. Pasca lebaran. Ketika Redue sering digeber 7000-9000 RPM, oli terasa kurang memberikan stabilitas. Dalam arti menjaga panas, getaran, dan gerakan mekanis mesin. Liquimoly walau sudah pemakaian di km 1600-an, kinerja-nya masih lebih baik dalam kondisi tersebut.

Jalan macet ? Same story.

Melipir beli bensin. Minum-minum sejenak. Kira-kira 15 menit. Nyalain mesin. Ekspektasi kinerja oli membaik setelah “beristirahat” (pengalaman pas make Liquimoly). Nope, hanya terasa sedikit saja perbedaan-nya.

Saya juga tidak pernah mengalami slip kopling selama menggunakan oli ini.

Kesimpulan
Overall, untuk banderol sekitar 50 ribu-an, ini oli yang cukup baik. Seperti-nya oli ini lebih diperuntukan untuk daily usage. Yang nggak banyak main RPM tinggi dan rider-nya nggak cerewet (read: nitpicking) seperti saya. Cocok untuk-untuk tipe-tipe rider santai dan bersahaja. Yang tangan kanan-nya nggak gatel kalo ngelihat jalanan kosong. 🙂

Saya pribadi merasa oli ini agak kurang performa-nya untuk motor 1 silinder 250cc seperti CBR250R dengan rider berat 89kg. Motor sudah jelas lebih terbebani daripada rider dengan berat lebih ringan. Otomatis oli kudu kerja lebih berat. Belum lagi saya juga (terkadang) doyan buka gas. Mungkin oli ini bekerja lebih ringan di motor 150cc.

Kandidat Bagus Untuk Short Interval Oil
Kombinasi “umur” pemakaian pendek dan banderol terjangkau, oli ini bisa dipertimbangkan untuk short interval oil. Siklus penggantian cepat. Tapi bagi saya yang udah termanjakan dengan kinerja Shell Advance Ultra, Liquimoly Street, dan Amsoil, saya lebih memilih salah satu dari oli tersebut.

Baca Juga:
Repsol Moto Sport Tidak Sama Dengan Moto Rider
Review: Oli Liquimoly Street 10w40
Review: Oli Amsoil 10w40. Oli Panas Dingin
Review: Oli Federal Racing 10w40
Review: Oli Shell Advance Ultra 10w40

Share This
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Artikel-Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *