Pendewasaan Berkendera Ketika Naik cc

CBR250R banyak merubah saya sebagai rider. Yang dulu-nya ugal-ugalan, seruntulan, menjadi lebih perhitungan dan tidak seenak jidat saya di jalan. Skill riding saya juga Alhamdulillah meningkat.

Seperti yang saya ceritakan di artikel saya sebelumnya, motor 250cc itu kencang, berat, dan powerful. Enough for daily commuting. But not enough for motorcycle enthusiast. You need a good doze of big bike for this. Trust me… 😉

Your Medicine
Your Medicine

Cukup sering saya mendengar pengendara motor 250cc ke atas yang celaka di jalan. Contohnya, Rider Ninja 250 yang meninggal di kelapa gading gara-gara tarik-tarikan dengan Vixion. Bila kita naik motor 250cc keatas, kita tidak bisa seenak jidat riding. Kita kudu lebih aware dengan kondisi di sekitar kita. Posisi kendaraan-kendaraan lain dan objek-objek lain. Karakter motor. Kondisi jalanan dan ban. Singkatnya, Instinct dan skill berkendara kudu lebih baik. Memang secara umum hal ini berlaku apabila kita berkendara. Bukan hanya naik motor. Tapi naik motor 250cc ke atas butuh effort lebih.

Kelengkapan sebagai rider kudu lebih. Jaket, sarung tangan, dan sepatu merupakan perlengkapan minimum. Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi di jalan. Setidaknya kita sudah bersiap terlebih dahulu. Saya pernah melihat disturbing picture kaki seorang rider penyemplak Z800 yang jari-jari kaki-nya habis karena kecelakaan. Kabar-nya dia hanya memakai sendal ketika riding. You don’t want that to happen to you, right ?

Safety First
Safety First

Saya sendiri pernah crash naik CBR250R. Jam 11 malam di Kuningan. Ketindihan motor, dan cuma pakai sendal gunung. Jari-jari saya tersangkut di rantai motor. Ketika itu saya tidak berdaya. Untunglah ada orang-orang di sekitar yang sedang nongkrong membantu saya. Setelah cukup lama saya berteriak minta tolong.

Crash itu nggak enak. Motor kesayangan rusak, badan luka-luka, uang keluar banyak untuk reparasi motor kesayangan dan berobat.

Don't want this to happen to you
Don’t want this to happen to you

Lebih Kalem
Penunggang motor sport wajib punya kesabaran lebih. Motor yang panas dan berat, ditambah kelakuan-kelakuan aneh orang-orang di jalan. Yang nyebrang sembarangan, nerobos lampu merah, dan lain-lain. Apalagi yang nantangin kita di jalan. Saya sendiri di lampu merah sering ditantang tarik-tarikan. And i just simply ignore it. Not worth it. Apa yang dicari ? Dapat piala tidak. Cuma gumaman kekesalan dan sumpah serapah orang. Cuma nambah karma doank brooo… 🙁

Better Riding Skill
Naik motor sport (khusus-nya 250cc), turut meningkatkan riding skill anda. Anda menjadi terbiasa untuk riding kencang. Lari 100kmph rasa-nya akan terasa biasa saja. Lari segini belum membuat mesin 250cc teriak. Tapi yang lebih penting, awareness lebih meningkat, dan kemampuan hard braking, dalam situasi darurat. Nah, ini nih yang paling penting IMHO. Ketika ada kelakuan-kelakuan aneh pengguna jalan lain, kita jadi nggak panik ketika motor fish tailing.

Skill dan instinct yang meningkat, terasa bermanfaat ketika kita menunggangi motor-motor cc yang lebih besar. Ketika saya mencoba Triumph Street Triple 675, Z800 atau Yamaha Vmax, saya tidak merasa canggung. Setelah mengetahui karakter motor-nya, tidaklah sulit menunggangi moge. As long you respect the power, you’ll be fine. Just don’t push it beyond your skill level.

In the end, dunia motor itu luas. Aspal itu keras. And crashing is hurt.. Kita banyak mengenal dan belajar jenis-jenis motor dan karakter-karakter manusia di sana. Dan hal ini bagus untuk proses pendewasaan seseorang.

There are so many bikes with different characteristics. There’s no ultimate bike. Only bikes that suits you.

Share This
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Artikel-Artikel Lain

2 Replies to “Pendewasaan Berkendera Ketika Naik cc”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *