Knalpot Aftermarket Dan Peraturan. Sebuah Dilema

Kemarin-kemarin sedang marak razia knalpot. Dimana knalpot non-standard dipotong di tempat. As usual, peraturan yang kurang jelas dijadikan landasan.

razia-knalpot
Banyak bener cuy

Standard itu seperti apa ? Ninja 250 ada yang standard. Ada juga yang edisi special pakai knalpot Nassert Beet. Bukankah 2-2-nya standard pabrikan ? Memang pas beli di dealer resmi keadaannya seperti itu. So, standard itu seperti apa sich ?

Ninja Standard
Ninja Standard
Ninja Standard Juga
Ninja Standard Juga

Kalau knalpot aftermarket jadi masalahnya, entah karena suara-nya yang ribut atau gimana, kenapa knalpot-knalpot aftermarket tetep banyak dijual ? To be honest, knalpot agak berisik buat motor kentjang kadang diperlukan. Agar pengguna jalan lain bisa aware. Dah sering ane jumpai orang nyebrang nggak liat2 (ujung2-nya hard braking), motor tau2 belok sendiri tanpa liat2, dan lain-lain. Tinggal dipantekin aja batas maksimal kebisingan-nya. Tapi tunggu dulu. Batas kebisingan (alias db) pas gimana ? Pas rpm berapa ? Berapa jarak antara knalpot dan alat ukur ? Gimana kalibrasi alat ukur-nya ? Hmmm… I called this “the db dilemma”

Another case of weird science

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *